Kamis, 24 Desember 2009

Apakah suplemen antioksidan mengganggu kemoterapi kanker?

Agen kemoterapi memproduksi efek anti kanker melalui beberapa mekanisme yang berbeda. Beberapa kelas kemoterapi bergantung pada penciptaan spesies oksigen reaktif (ROS) untuk mengerahkan efek terapeutik mereka ini termasuk platina effect mengandung senyawa (misalnya, cisplatin, carboplatin); alkylating agen (misalnya, siklofosfamid, ifosfamide); dan mitomycin C. Anthracyclines (misalnya, doxorubi-cin) dan menciptakan bleomycin ROS, namun reaksi ini mungkin tidak menunjukan bahwa mereka menghasilkan aktivitas antineoplastik. DNA, protein, dan lipid dapat rusak parah karena ROS tingkat tinggi.
Antioksidan adalah agen-agen yang mengikat ROS dan secara luas digunakan sebagai agen untuk pencegahan penyakit seperti kanker. Beberapa pasien berpaling kepada antioksidan selama kemoterapi untuk membantu mencegah efek samping kemoterapi. Diperkirakan bahwa antioksidan mungkin melindungi jaringan dan sel-sel dari kerusakan oksidatif karena radikal bebas dan mengurangi efek samping. Namun, melalui mekanisme yang sama, ada kekhawatiran bahwa antioksidan dapat berpotensi mengurangi efektivitas kemoterapi, terutama yang agen yang bekerja terutama melalui generasi ROS. Sembilan dari uji klinis ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik dari kanker yang berkaitan dengan perkembangan atau kelangsungan hidup pada pasien receiver-ing antioksidan dan kemoterapi. Namun, beberapa studi ini mungkin kurang kuat untuk diuji pada uji statistiuk yang berbeda. Dalam penelitian, banyak jenis kanker yang berbeda yang dipelajari, dan berbeda rejimen kemoterapi, antioksidan yang berbeda, dan dosis yang digunakan berbeda , sehingga sangat sulit untuk membandingkan studi-studi ini untuk analisis. Empat dari studi ditinjau mengungkapkan hasil yang signifikan. Tiga penelitian yang digunakan melatonin 20mg secara oral, sementara keempat glutathione diberikan 30mg/kg IV.1 Peneliti menemukan bahwa kelompok antioksidan meningkat tingkat stabilitas penyakit (p <0,01) dan peningkatan tingkat regresi tumor (p <0,05) dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antioksidan (p <0,01) .Para peneliti juga menemukan bahwa kelompok antioksidan dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antioksidan lebih mungkin untuk mencapai tingkat respons lengkap yang signifikan (p <0,02), tingkat respons parsial (p <0,01), dan lengkap dan parsial tingkat regresi tumor (p <0,001) . Ada juga peningkatan kelangsungan hidup secara keseluruhan dalam kelompok antioksidan dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antioksidan (p <0,05). Cerea et al. menemukan bahwa mereka yang menerima antioksidan dalam jumlah yang stabil mudah kena penyakit (p <0,05) .Fujimoto et al. menemukan bahwa pasien dengan kanker lambung dan mendapat antioksidan memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan plasebo (p <0,025 pada 3,4, & 5 tahun) .
Secara keseluruhan, sulit untuk membuat analisis karena berbagai jenis dan dosis dari kemoterapi dan antioksidan yang digunakan dan jenis kanker yang berbeda dalam studi yang dievaluasi. Beberapa studi mengevaluasi hasil utama dari efek samping, sementara hasil yang berkaitan dengan perkembangan penyakit dan kelangsungan hidup yang sekunder, dan mungkin tidak dirancang untuk mengevaluasi hasil terapi. Sembilan dari studi ditinjau menggunakan subyek kurang dari 50 peserta. Dengan demikian, penelitian dengan jumlah subyek yang lebih besar perlu dilakukan. Setelah meninjau data penelitian, tampaknya ada informasi yang tidak memadai mengenai peranan antioksidan dalam kemoterapi
dan penggunaannya dalam dosis tinggi memerlukan studi yang lebih lanjut.

sumber: http://druginfo.creighton.edu/Newsletters/Vol%203%20Issue%206%20(gen).pdf

terapi TBC

Pengobatan TBC secara tepat, secara tidak langsung akan mencegah penyebaran penyakit ini. Beberapa obat yang biasanya digunakan, yakni :

* Isoniazid (INH)

Obat yang bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) ini merupakan prodrug yang perlu diaktifkan dengan enzim katalase untuk menimbulkan efek. Bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel mikrobakteri.

* Rifampisin / Rifampin

Bersifat bakterisidal (membunuh bakteri) dan bekerja dengan mencegah transkripsi RNA dalam proses sintesis protein dinding sel bakteri.

* Pirazinamid

Bersifat bakterisidal dan bekerja dengan menghambat pembentukan asam lemak yang diperlukan dalam pertumbuhan bakteri.

* Streptomisin

Termasuk dalam golongan aminoglikosida dan dapat membunuh sel mikroba dengan cara menghambat sintesis protein.

* Ethambutol

Bersifat bakteriostatik. Bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri dengan meningkatkan permeabilitas dinding.



Dalam terapi TBC, biasanya dipilih pemberian dalam bentuk kombinasi dari 3-4 macam obat tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri terhadap obat. Dosis yang diberikan berbeda untuk tiap penderita, bergantung tingkat keparahan infeksi. Karena bakteri tuberkulosa sangat lambat pertumbuhannya, maka penanganan TBC cukup lama, antara 6 hingga 12 bulan yaitu untuk membunuh seluruh bakteri secara tuntas.

Pengobatan harus dilakukan secara terus-menerus tanpa terputus, walaupun pasien telah merasa lebih baik / sehat. Pengobatan yang terhenti ditengah jalan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten. Jika hal ini terjadi, maka TBC akan lebih sukar untuk disembuhkan dan perlu waktu yang lebih lama untuk ditangani. Untuk membantu memastikan penderita TBC meminum obat secara teratur dan benar, keterlibatan anggota keluarga atau petugas kesehatan diperlukan yaitu mengawasi dan jika perlu menyiapkan obat yang hendak dikonsumsi. Oleh karena itu, perlunya dukungan terutama dari keluarga penderita untuk menuntaskan pengobatan agar benar-benar tercapai kesembuhan.

Obat diminum pada waktu yang sama setiap harinya untuk memudahkan penderita dalam mengonsumsi obat. Lebih baik obat diminum saat perut kosong sekitar setengah jam sebelum makan atau menjelang tidur.

analgesik antipiretik

Obat saraf dan otot golongan analgesik atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh.
Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :

1. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.

Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
Ada 3 golongan obat ini yaitu :
1. Obat yang berasal dari opium-morfin,
2. Senyawa semisintetik morfin, dan
3. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

2. Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.

Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia :

1. Paracetamol/acetaminophen

Merupakan derivat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik.

Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.

Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
2. Ibuprofen

Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin.

Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.
3. Asam mefenamat

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
4. Tramadol

Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu yang lama.

Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter.

Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.
5. Benorylate

Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
6. Fentanyl

Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker.

Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik narkotika.

Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.

Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
7. Naproxen

Naproxen termasuk dalam golongan antiinflamasi nonsteroid. Naproxen bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri di tubuh.
8. Obat lainnya

Metamizol, Aspirin (Asetosal/ Asam asetil salisilat), Dypirone/Methampiron, Floctafenine, Novaminsulfonicum, dan Sufentanil.

Untuk pemilihan golongan obat analgesik dan antipiretik yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

Di medicastore anda dapat mencari informasi obat seperti : kegunaan atau indikasi obat, generik atau kandungan obat, efek samping obat, kontra indikasi obat, hal apa yang harus menjadi perhatian sewaktu konsumsi obat, gambar obat yang anda pilih hingga harga obat dengan berbagai sediaan yang dibuat oleh pabrik obat. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat sesuai dengan kebutuhan anda.

sumber : www.medicastore.com

sugeng rawuh

assalamualaikum..
Selamat datang di KotakObatQu, sebuah blog yang berisikan tentang semua-mua informasi obat. Disini anda dapat bertanya dan berkonsultasi mengenai informasi obat.

semoga blog ini dapat membantu anda menyelesaikan permasalahan seputar obat..
dan semoga informasi dalam blog ini dapat berguna bagi anda...
selamat menikmati dan mari berbagi ^_^